Malang, 02 Desember 2025 – Dalam upaya mendorong percepatan pembangunan berkelanjutan, Program Studi Teknologi Rekayasa Manufaktur Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Kuliah Tamu dengan tema “Peran Teknologi Manufaktur dalam Meningkatkan Perekonomian Nasional.” Acara yang menghadirkan dosen tamu dan praktisi industri, Dr. Sodik, S.E., M.Si selaku dosen di Universitas Widyagama Malang, tersebut mengulas secara mendalam bagaimana kemajuan sektor manufaktur tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga menjadi katalis utama dalam transisi menuju energi bersih dan tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dalam pemaparannya, Dr. Sodik, S.E., M.Si menegaskan bahwa industri manufaktur Indonesia sedang berada pada titik balik yang kritis. “Teknologi manufaktur mutakhir, seperti otomasi cerdas, additive manufacturing (percetakan 3D), dan Internet of Things (IoT), bukan lagi sekadar pilihan, melainkan suatu keharusan untuk meningkatkan daya saing, efisiensi, dan nilai tambah produk lokal,” ujarnya. Inovasi-inovasi ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan menciptakan lapangan kerja baru yang skill-intensive dan mendorong produktivitas nasional. Lebih lanjut, ditekankan bahwa peningkatan ekonomi nasional melalui bidang manufaktur tidak boleh mengabaikan aspek keberlanjutan. “Peningkatan ekonomi harus in tandem dengan pelestarian lingkungan. Di sinilah peran teknologi manufaktur hijau (green manufacturing) menjadi sentral,” tambahnya. Adopsi prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi, penggunaan material daur ulang, dan yang terpenting, inovasi dalam pembuatan komponen untuk energi terbarukan—seperti turbin angin, panel surya, dan sistem baterai—secara langsung menyokong SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau.

“Dengan menguasai teknologi manufaktur untuk sektor energi terbarukan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasokan ekonomi hijau global. Ini adalah strategi jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan,” paparnya.
Kuliah tamu ini juga menyoroti keterkaitan erat antara kemajuan industri dan agenda kampus berkelanjutan (Green Campus). Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Manufaktur, Ir. Didin Zakariya Lubis, S.Pd., M.Eng, dalam sambutannya menyatakan, “Diskusi hari ini memberikan perspektif nyata bagaimana universitas dapat berperan lebih aktif. Kami tidak hanya akan mengintegrasikan prinsip green manufacturing ke dalam kurikulum, tetapi juga menjadikan kampus sebagai living lab untuk menguji dan mengimplementasikan teknologi tersebut, seperti melalui proyek smart grid atau sistem manajemen energi berbasis IoT.”

Acara yang dihadiri oleh mahasiswa, dan dosen ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta membahas peluang, tantangan regulasi, dan kebutuhan kolaborasi triple helix—antara akademisi, industri, dan pemerintah—untuk memastikan bahwa lompatan teknologi di sektor manufaktur benar-benar inklusif dan mengakselerasi pencapaian SDGs di Indonesia.

Pewarta: Azzahra Fidela Azya