
MALANG (1/9/2025) – Isu transisi energi dan pengembangan teknologi terbarukan kembali menjadi sorotan utama di lingkungan akademis Universitas Negeri Malang (UM). Program Studi Teknologi Rekayasa Pembangkit Energi, Fakultas Vokasi UM, sukses menyelenggarakan kuliah tamu berskala internasional pada Senin, 1 September 2025. Bertempat di Auditorium Gedung A20 Lantai 9, acara ini menghadirkan pakar sistem tenaga listrik dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Assoc. Prof. Wahyu Mulyo Utomo, PhD.
Mengusung tema sentral “An Advanced DC-DC Converter for Renewable Energy Systems” atau “Konverter DC-DC Lanjut untuk Sistem Energi Terbarukan”, kegiatan ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari jajaran dosen dan seluruh mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Pembangkit Energi. Antusiasme peserta sudah terlihat sejak pagi hari memadati auditorium, mencerminkan tingginya minat sivitas akademika UM terhadap perkembangan teknologi energi masa depan.

Acara dibuka dengan sambutan hangat yang menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pendidikan vokasi. Kehadiran Assoc. Prof. Wahyu Mulyo Utomo di Malang bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari upaya mempererat hubungan akademik antara UM dan UTHM. Dalam sesi pengantarnya, beliau sempat memperkenalkan profil UTHM sebagai salah satu institusi teknik terkemuka yang memiliki populasi mahasiswa internasional yang signifikan, termasuk dari Indonesia, Yaman, hingga Tiongkok. Beliau memaparkan bahwa UTHM memiliki fokus kuat pada bidang teknik dan TVET (Technical and Vocational Education and Training), yang sangat relevan dengan semangat Fakultas Vokasi UM.
Memasuki materi inti, Assoc. Prof. Wahyu Mulyo Utomo mengajak peserta untuk kembali memahami fundamental dari energi terbarukan. Beliau menjelaskan bahwa energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber alam yang selalu terisi kembali (replenished). Karakteristik utamanya adalah ketersediaannya yang berkelanjutan dan sifatnya yang ramah lingkungan.
“Manfaat utama dari transisi ke energi terbarukan tidak hanya soal lingkungan, seperti pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga kemandirian energi (energy independence) dan pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja baru,” papar beliau di hadapan para mahasiswa yang menyimak dengan serius.
Namun, integrasi energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan modern bukan tanpa tantangan. Di sinilah peran vital dari teknologi elektronika daya, khususnya konverter daya (power converter). Dalam presentasinya, beliau menyoroti sistem yang terdiri dari panel surya, konverter daya, dan beban listrik. Tantangan terbesar dalam desain konverter daya saat ini meliputi aspek volume, berat, rugi-rugi daya (losses), biaya, hingga tingkat kegagalan komponen.
Bagian paling menarik dari kuliah tamu ini adalah pemaparan mendalam mengenai riset yang tengah dikembangkan di Power Electronic Lab FKEE UTHM. Pemateri memperkenalkan konsep “Multi-Input Multi-Phase DC-DC Converter” yang telah melewati pengembangan dari generasi pertama hingga ketiga.
Mahasiswa Teknologi Rekayasa Pembangkit Energi diajak berpikir kritis mengenai efisiensi energi. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan sumber energi terbarukan untuk menyuplai beban DC secara langsung dapat membantu mengurangi rugi-rugi energi secara signifikan. Hal ini menjadi sangat relevan mengingat tren beban listrik modern yang didominasi oleh perangkat DC.
Sebagai studi kasus yang kontekstual dengan audiens Indonesia, Assoc. Prof. Wahyu mengangkat fenomena penggunaan smartphone. Dengan data yang menunjukkan adanya 34,6 juta unit smartphone di Indonesia pada tahun 2023, beliau melontarkan pertanyaan pemantik mengenai total konsumsi listrik tahunan hanya untuk pengisian daya ponsel. Ilustrasi ini membuka wawasan peserta bahwa efisiensi sekecil apapun pada konverter daya akan berdampak masif jika dikalikan dengan jutaan pengguna.
Diskusi semakin hangat ketika materi beralih ke tantangan kompatibilitas konektor pengisian daya DC (DC charging connectors compatibility). Dalam ekosistem kendaraan listrik (EV) dan perangkat elektronik portabel, keragaman tipe konektor dan standar tegangan menjadi kendala teknis yang nyata.
Beliau memberikan contoh nyata perbedaan kebutuhan daya antara laptop (umumnya 19V, 65W) dan ponsel (5-11V, 15-65W). Perbedaan ini menuntut adanya teknologi konverter yang cerdas dan adaptif. Selain itu, tantangan dalam Distributed Energy Storage System (Sistem Penyimpanan Energi Terdistribusi) juga menjadi sorotan, mengingat instalasi penyimpanan baterai global yang terus meningkat tajam.
Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Para dosen dan mahasiswa silih berganti mengajukan pertanyaan, mulai dari teknis desain konverter hingga strategi kontrol energi. Assoc. Prof. Wahyu menekankan bahwa peluang riset di bidang ini masih sangat terbuka lebar. Beliau merangkum setidaknya dua peluang riset utama bagi para mahasiswa tingkat akhir maupun dosen: desain konverter DC-DC efisiensi tinggi dan strategi kontrol energi pada sistem energi terbarukan (Energy control strategy in RES).
“Teknologi ini adalah kunci masa depan. Bagaimana kita bisa membuat konverter yang lebih kecil, lebih ringan, namun dengan efisiensi yang mendekati sempurna, itulah tantangan bagi kalian para insinyur masa depan,” ujarnya memotivasi peserta.
Kuliah tamu ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata. Wajah-wajah puas terpancar dari para peserta yang mendapatkan wawasan baru mengenai teknologi mutakhir di bidang pembangkitan energi. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga pemicu semangat bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang untuk terus berinovasi dalam mengembangkan teknologi energi yang ramah lingkungan dan efisien.
Dengan suksesnya acara ini, Program Studi Teknologi Rekayasa Pembangkit Energi UM semakin mengukuhkan komitmennya dalam mencetak lulusan vokasi yang kompeten, berwawasan global, dan siap menjawab tantangan transisi energi dunia.
Penulis: Arya Kusumawardana