Malang, 5 Mei 2025 — Fakultas Vokasi Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan VICC (Vocational Inter-Cultural Camp) 2025, sebuah program pertukaran budaya internasional yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 5 Mei 2025. Kegiatan ini menghadirkan 24 peserta dari Malaysia, termasuk perwakilan dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI).
VICC 2025 menjadi wadah strategis bagi mahasiswa vokasi lintas negara untuk mempererat pemahaman antarbudaya melalui pengalaman langsung di ruang-ruang sosial, edukatif, dan wisata lokal. Program dimulai pada tanggal 1 Mei 2025 dengan kunjungan eksploratif ke Pasar Klojen, Kota Malang, di mana peserta belajar memahami dinamika budaya jual beli masyarakat lokal, sembari menggali nilai-nilai tradisional dalam interaksi pasar rakyat.
Hari kedua diisi dengan sesi membatik yang berlangsung di Batu. Melalui praktik langsung, peserta mengenal filosofi batik serta nilai artistik dan historis yang terkandung dalam motif-motif lokal. Acara dilanjutkan dengan welcoming event oleh Dekan Fakultas Vokasi, Dr. Muladi, ST., MT, dan kerja kelompok untuk menyelesaikan kasus terkait pemberdayaan masyarakat di Malang Raya.
Di hari ketiga, peserta mengikuti rangkaian kegiatan Symposium, kompetisi di masing-masing program studi dan kunjungan ke Ruang Belajar Aqil selaku kolaborator kegiatan pengabdian masyarakat (community service). Selanjutnya, peserta kegiatan wisata edukatif ke Gunung Bromo. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan potensi wisata alam dan ekowisata Indonesia kepada peserta internasional.
Pada hari terakhir, peserta melakukan kegiatan community service bersama Ruang Belajar Aqil berupa pengenalan permainan tradisional asal Malaysia kepada siswa-siswi SD Muhammadiyah 9 Malang. Dalam suasana yang penuh semangat, peserta dari Malaysia memperkenalkan berbagai permainan tradisional seperti Datuk Harimau, Ting Ting, Congkak, Cikupang, dan Pick Up Stick (Batu Seremban). Interaksi berlangsung penuh keakraban, karena kedekatan bahasa dan budaya dalam rumpun Melayu memudahkan komunikasi dan kehangatan emosional. Pasca kegiatan community service, acara ditutup dengan presentasi hasil kerja kelompok tentang pemberdayaan masyarakat oleh para peserta. Mereka membagikan hasil refleksi, solusi atas tantangan kolaboratif, serta ide-ide perbaikan untuk memperkuat kegiatan serupa di masa depan.
Dengan terselenggaranya VICC 2025, Fakultas Vokasi UM membuktikan perannya sebagai pelopor pendidikan vokasi berbasis kolaborasi internasional dan nilai-nilai budaya. Program ini bukan hanya menjadi wahana pertukaran pengalaman, tetapi juga penguatan diplomasi antarbangsa melalui edukasi, permainan, dan kearifan lokal yang menyatukan.
Kontribusi terhadap SDGs
SDG 4 – Pendidikan Berkualitas:
VICC 2025 secara nyata mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi melalui pendekatan lintas budaya yang aplikatif dan kolaboratif. Mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia berinteraksi secara langsung dalam kegiatan edukatif, seperti praktik membatik, pengenalan budaya lokal, serta diskusi studi kasus terkait pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik peserta, tetapi juga membentuk pemahaman lintas negara yang lebih dalam terhadap pendidikan berbasis kearifan lokal.
SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:
Melalui eksplorasi keterampilan tradisional seperti membatik dan pengenalan pasar lokal, peserta mendapatkan wawasan mengenai potensi ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal ini membuka perspektif baru mengenai bagaimana sektor vokasi dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja berbasis warisan budaya.
SDG 10 – Mengurangi Ketimpangan:
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari dua negara dengan latar belakang budaya yang berbeda namun serumpun, untuk belajar bersama dalam suasana yang inklusif. Pendekatan ini memperkuat pemahaman lintas budaya dan meminimalkan jarak sosial serta stereotip antarbangsa melalui dialog, permainan, dan kolaborasi nyata.
SDG 11 – Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan:
Kunjungan ke pasar tradisional dan interaksi di ruang belajar komunitas seperti Ruang Belajar Aqil menunjukkan bagaimana ruang-ruang kota dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukatif yang bermakna. Ini menjadi contoh integrasi antara ruang publik, komunitas, dan pendidikan dalam mendukung kota yang inklusif dan layak huni.
SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:
VICC 2025 adalah wujud nyata dari kolaborasi internasional antara Fakultas Vokasi UM dengan institusi pendidikan tinggi di Malaysia. Kegiatan ini memperkuat jejaring akademik dan pertukaran pengetahuan lintas negara, sekaligus menjadi bentuk diplomasi pendidikan yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan secara kolektif.
Pewarta: I Made Ariana