Malang, 3 Mei 2025 — Industri fashion tidak hanya berbicara tentang tren, tetapi juga tentang inovasi, budaya, dan keberlanjutan. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam sesi simposium internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Vokasi Universitas Negeri Malang (UM), menghadirkan Dr. Rose Dahlina Binti Rusli dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, Malaysia, sebagai keynote speaker.

Dalam pemaparannya yang berjudul “Surface Embellishment in Fashion”, Dr. Rose membahas pentingnya elemen dekoratif permukaan dalam desain busana sebagai ekspresi budaya sekaligus bagian dari inovasi tekstil modern. Ia menekankan bahwa detail visual seperti bordir, manik-manik, teknik sablon, dan aplikasi tekstil lainnya bukan sekadar hiasan, tetapi juga memiliki nilai naratif, estetika, dan bahkan ekonomis yang tinggi.

“Surface embellishment bukan hanya mempercantik, tapi menciptakan identitas. Lewat elemen visual inilah fashion menjadi media komunikasi budaya dan inovasi desain,” jelas Dr. Rose dalam presentasinya.

Topik ini mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta, terutama mahasiswa dan akademisi yang bergerak di bidang tata busana dan seni kreatif. Sesi ini menjadi ajang bertukar perspektif mengenai bagaimana desainer masa kini bisa menggabungkan estetika lokal, nilai keberlanjutan, dan pendekatan modern dalam menciptakan karya fashion yang relevan secara global.

Simposium ini merupakan bagian dari rangkaian acara International Symposium bertema “Innovation in Arts, Social Humanities and Technology for a Sustainable Future”, yang diselenggarakan oleh Fakultas Vokasi UM. Kegiatan ini mempertemukan para akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Turki untuk membahas inovasi lintas bidang yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Pendaftaran simposium dilakukan secara daring melalui situs resmi bit.um.ac.id/symposium_fv dan dibuka hingga 30 April 2025. Simposium ini ditujukan untuk akademisi dan mahasiswa, dengan kuota peserta terbatas.

Melalui kehadiran narasumber seperti Dr. Rose Dahlina, Fakultas Vokasi UM menunjukkan bahwa fashion sebagai bidang vokasi juga memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu, budaya, dan ekonomi kreatif di tingkat internasional. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi mampu bersaing dan berkontribusi dalam wacana global tentang keberlanjutan dan inovasi kreatif.

Dengan mengangkat tema fashion dari sudut pandang budaya dan teknik, simposium ini turut memperluas pemahaman publik bahwa keberlanjutan tidak hanya soal teknologi dan lingkungan, tetapi juga menyangkut estetika, identitas, dan nilai manusia.

Kontribusi terhadap SDGs:

SDG 4 – Pendidikan Berkualitas:
Materi yang dibawakan Dr. Rose mendukung pengembangan keterampilan desain fashion berbasis budaya dan inovasi. Mahasiswa tidak hanya belajar menjahit, tetapi juga memahami filosofi, teknik, dan nilai estetika dalam tiap elemen busana.

SDG 5 – Kesetaraan Gender:
Sebagai akademisi perempuan dalam industri fashion, Dr. Rose mewakili suara perempuan dalam pendidikan dan industri kreatif. Materinya menginspirasi mahasiswa, khususnya perempuan, untuk berani tampil, berinovasi, dan berkarya secara profesional.

SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:
Fashion yang mengedepankan seni hias permukaan menciptakan nilai tambah pada produk, membuka peluang wirausaha dan ekspansi industri kreatif lokal dengan pendekatan yang kompetitif secara global.

SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:
Dengan menekankan nilai kultural dan teknik produksi yang sadar bahan, materi ini mendorong produksi fashion yang etis, berkelanjutan, dan mencerminkan identitas lokal.

Pewarta: I Made Ariana