Malang, 2024 – Dalam upaya mendorong kesadaran terhadap pentingnya konsumsi berkelanjutan dan pengurangan limbah plastik, dua mahasiswa Universitas Negeri Malang melaksanakan studi terapan bertajuk “Penerapan Green Marketing pada Produk Bubble Wrap dalam Meningkatkan Purchase Intention dan Perceived Value”. Penelitian ini berfokus pada OCUWRAP, produk bubble wrap biodegradable berbahan dasar pati singkong dan gambas kering, sebagai inovasi kemasan ramah lingkungan yang relevan dengan gaya hidup zero waste.

Studi ini menunjukkan bagaimana strategi green marketing yang dilakukan oleh OCUWRAP mampu meningkatkan minat beli (purchase intention) dan nilai yang dirasakan (perceived value) konsumen. Produk ini dikembangkan oleh pelaku industri rumah tangga dengan pendekatan pemasaran yang mengedepankan nilai keberlanjutan.

  1. Menganalisis penerapan strategi green marketing dalam pengembangan produk kemasan
  2. Mengkaji dampak strategi tersebut terhadap peningkatan minat beli dan nilai produk di mata
  3. Memberikan wawasan praktis kepada pelaku industri kecil terkait pentingnya strategi pemasaran hijau dalam menjangkau pasar yang sadar lingkungan.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang disertai wawancara mendalam terhadap tujuh informan utama yang meliputi manajer pemasaran dan pengembangan produk OCUWRAP, pemilik toko kosmetik pengguna OCUWRAP, serta konsumen dan pengikut media sosial OCUWRAP, kegiatan penelitian ini berhasil menggambarkan secara holistik bagaimana penerapan strategi green marketing mampu meningkatkan minat beli (purchase intention) dan nilai yang dirasakan (perceived value) dari produk kemasan ramah lingkungan berbasis biodegradable bubble wrap.

Strategi green marketing pada OCUWRAP diterapkan secara menyeluruh dalam tiga aspek utama: produk, promosi, dan distribusi. Dari sisi produk, OCUWRAP memanfaatkan bahan dasar alami seperti pati singkong dan gambas kering sebagai pengganti plastik konvensional. Selain itu, OCUWRAP mencantumkan panduan penggunaan ulang dan edukasi lingkungan secara eksplisit pada kemasan produknya, termasuk fitur barcode yang terhubung ke video edukatif di YouTube. Aspek ini menunjukkan bahwa OCUWRAP tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga mengedukasi konsumen tentang siklus hidup produknya dan pentingnya eco-conscious behavior.

Pada aspek promosi, OCUWRAP secara aktif menggunakan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Threads untuk mengedukasi sekaligus membangun brand engagement. Kampanye- kampanye tematik, seperti Hari Lingkungan Hidup dan kampanye “Be A Solution, Not Pollution”, telah menarik perhatian audiens muda yang mulai peduli terhadap isu keberlanjutan. Tak hanya itu, strategi promosi juga mencakup pemberian diskon pada hari-hari tertentu serta paket bundling menarik yang efektif dalam mendorong trial purchase.

Dari aspek distribusi, perusahaan menunjukkan komitmennya terhadap prinsip ramah lingkungan dengan menggunakan media cetak seperti pamflet dan brosur yang dibuat dari kertas daur ulang.

Strategi ini bukan hanya memperkuat citra hijau produk, tetapi juga memperlihatkan konsistensi nilai dari hulu ke hilir dalam rantai pemasaran.

Hasil dari penerapan strategi ini cukup signifikan. Nilai produk (perceived value) di mata konsumen meningkat karena OCUWRAP dianggap tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga praktis, kuat, dan multifungsi—terbukti dapat digunakan kembali sebagai media tanam. Konsumen juga mengapresiasi nilai tambah dari informasi terbuka yang diberikan perusahaan mengenai proses produksi dan dampak lingkungan.

Peningkatan minat beli konsumen (purchase intention) juga terverifikasi secara empiris. Data penjualan menunjukkan adanya peningkatan drastis dari hanya 107 unit pada bulan Agustus (awal peluncuran strategi green marketing) menjadi 897 unit pada bulan November 2023. Tren ini mengindikasikan efektivitas strategi pemasaran hijau dalam membangun kepercayaan konsumen dan menciptakan loyalitas melalui edukasi berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kegiatan penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik terhadap pengembangan konsep green marketing, tetapi juga menjadi contoh konkret penerapan strategi tersebut pada sektor UMKM berbasis inovasi ramah lingkungan. Penelitian ini membuktikan bahwa green marketing tidak hanya dapat membentuk citra positif merek, tetapi juga berdampak langsung terhadap keputusan pembelian konsumen, sekaligus memperkuat komitmen kolektif terhadap konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

Beberapa kendala dalam pengembangan produk dan strategi pemasaran mencakup:

  1. Harga produk yang relatif lebih tinggi dibandingkan bubble wrap
  2. Kurangnya kesadaran awal konsumen terhadap alternatif kemasan ramah lingkungan. Namun, tantangan ini berhasil diatasi melalui edukasi yang konsisten dan pendekatan pemasaran berbasis nila

Berikut beberapa testimoni yang telah diberikan:

“Sebelumnya saya tidak tahu kalau ada bubble wrap biodegradable, ternyata setelah lihat OCUWRAP di media sosial dan baca infonya di website, jadi tertarik. Ternyata bisa jadi media tanam juga setelah dipakai,” ujar EA, konsumen OCUWRAP.

“Produk ini memang lebih mahal, tapi sepadan dengan kualitas dan misinya. Sangat cocok untuk brand kami yang juga mengusung nilai ramah lingkungan,” tambah SA, pemilik toko kosmetik.

  1. SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

Produk OCUWRAP membantu mengurangi limbah plastik melalui alternatif kemasan ramah lingkungan dan strategi promosi yang mendidik pasar akan pentingnya keberlanjutan.

  1. SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim

Melalui edukasi publik dan kampanye hijau, OCUWRAP mendorong masyarakat untuk berkontribusi dalam pengurangan dampak lingkungan.

  1. SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur

Produk ini merupakan hasil inovasi dari sektor industri rumah tangga yang mengedepankan keberlanjutan, menjadi contoh bagi pengembangan produk hijau lainnya.

 

Penulis : Helen Atris R. K. Putri & Rayie Tariaranie W.
Editor   : Tim Redaksi Asersi Jurnal Akuntansi Terapan dan Bisnis