Malang, 3 Mei 2025 — Fakultas Vokasi Universitas Negeri Malang (UM) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kolaborasi global dan pengembangan inovasi melalui penyelenggaraan International Symposium bertema “Innovation in Arts, Social Humanities and Technology for a Sustainable Future”, yang digelar pada Sabtu, 3 Mei 2025 di Auditorium Gedung GKB A20 Lantai 9, Kampus UM, Malang, Jawa Timur.
Acara berskala internasional ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi dari berbagai negara seperti Indonesia dan Malaysia, serta diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan vokasi. Simposium ini menjadi wadah strategis untuk berbagi ide, hasil riset, serta praktik terbaik dalam membangun masa depan yang berkelanjutan melalui pendekatan multidisipliner.
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah kehadiran keynote speaker Dr. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku Direktur Akademi Inovasi Indonesia. Dalam sesi presentasinya, beliau membawakan materi bertajuk “Innovative Project Based Learning and Teaching Factory (TEFA) to Create Sustainable and Competitive Industrial Product and Human Resources”. Dr. Wikan menegaskan pentingnya pendidikan vokasi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan zaman.
“Pendidikan vokasi harus menjadi jawaban atas dinamika dunia kerja. Melalui pendekatan TEFA, mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi langsung terlibat dalam proses produksi dan inovasi industri,” ujar Dr. Wikan di hadapan para peserta simposium.
Acara ini juga membahas beragam topik yang relevan dengan tantangan masa depan, mulai dari sustainable fashion, cyber-culture, hingga rekayasa ESG (Environmental, Social, and Governance). Para pembicara menyampaikan bagaimana inovasi tidak lagi hanya milik ranah teknologi, melainkan juga menjadi bagian penting dari transformasi sosial dan budaya.
Kepala Panitia Simposium, yang juga dosen di Fakultas Vokasi UM, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya internasionalisasi kampus. “Kami ingin mahasiswa dan dosen kami mendapatkan wawasan global serta jejaring akademik yang luas. Kolaborasi internasional ini sangat penting untuk menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Simposium ini terbuka untuk umum, terutama ditujukan bagi akademisi dan mahasiswa. Pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman resmi bit.um.ac.id/symposium_fv, dan ditutup pada 25 April 2025. Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui akun Instagram resmi @vocaspira.fvum atau melalui kontak panitia.
Antusiasme peserta terlihat dari penuhnya auditorium sejak pagi hari. Tidak hanya menjadi ajang akademik, simposium ini juga menjadi ruang inspiratif bagi generasi muda untuk berpikir kritis, bertindak solutif, dan berjejaring secara internasional.
Dengan terselenggaranya International Symposium ini, Fakultas Vokasi UM menunjukkan peran strategisnya sebagai pusat pendidikan vokasi berbasis inovasi di Indonesia, sekaligus menjadi penggerak dalam mewujudkan visi pendidikan tinggi yang relevan, adaptif, dan berkelanjutan di era global.
Kontribusi terhadap SDGs:
SDG 4 – Pendidikan Berkualitas:
Materi yang disampaikan Dr. Wikan mendorong pergeseran paradigma pendidikan vokasi dari sistem konvensional menuju pembelajaran berbasis proyek nyata (Project-Based Learning) dan Teaching Factory. Pendekatan ini secara langsung meningkatkan kualitas pendidikan vokasi yang relevan, praktis, dan terintegrasi dengan kebutuhan dunia industri.
SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:
Dengan menghubungkan kampus dan dunia kerja melalui TEFA, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja yang kompeten atau wirausahawan muda. Hal ini berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur:
Konsep Teaching Factory mendorong inovasi industri berbasis kampus dan penguatan infrastruktur pendidikan yang produktif. Kampus tidak hanya sebagai lembaga pembelajaran, tetapi juga inkubator produk dan solusi industri.
SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:
Simposium ini melibatkan kerjasama multi-pihak antara perguruan tinggi, industri, dan mitra internasional untuk memperkuat sistem pendidikan vokasi secara global.
Pewarta: I Made Ariana