


Latar belakang
Di wilayah Malang kota khususnya di area kec sukun, lowokaru dan kedung kandang, banyak warganya yang berprofesi sebagai pekerja bangunan yaitu kuli maupun tukang bangunan. Di daerah tersebut tersebut hampir terdapat banyak warga yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja bangunan. Menurut (Malang, 2022), kota Malang pada tahun 2022 terdapat 34.678 jiwa yang dinyatakan sebagai pengangguran. Masalah sosial ekonomi, kenakalan remaja, lingkungan yang mendukung serta rendahnya minat orang tua maupun siswa untuk mengenyam pendidikan, sehingga salah satu profesi yang bisa dimasuki adalah sebagai pekerja bangunan, yang tentu tidak memerlukan persyaratan pendidikan tinggi. Pekerja bangunan yang pada umunya pekerja harian lepas yaitu hanya bekerja kala ada pekerjaan dan berhenti bekerja jika pekerjaaan sudah selesai (Putri, 2019).
Di era modern seperti saat ini smart furniture sangat banyak diminati, banyak café dan rumah tinggal sudah banyak menggunakan smart furniture (Krejcar, dkk., 2019). Smart furniture adalah furniture yang memberikan nilai tambah, fungsionalitas, kenyamanan dan keanggunan untuk memenuhi setiap kebutuhan pribadi yang dikeluarkan oleh pengguna (Siswanto, dkk., 2022).
Meningkatnya jumlah anak kost di sekitar Universitas Negeri Malang yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap penataan ruang kamar kost dan kenyamanan penghuni. Kondisi ini menciptakan lingkungan tempat tinggal yang kurang optimal dan tidak sesuai dengan perkembangan gaya hidup anak kost modern. Terbatasnya perabot dan penataan yang efisien menjadikan ruang kamar kost tidak memenuhi standar kenyamanan (Pramasto, 2019), mempengaruhi kesejahteraan penghuni, dan berpotensi memberikan dampak negatif pada aspek akademis dan kesejahteraan mental mereka (Goeinawan & Hartanto, 2024).
Pentingnya peran tukang kayu dan kuli dalam menciptakan desain smart furniture menjadi semakin terasa untuk mengatasi permasalahan ini. Adanya kebutuhan akan penyuluhan dan peningkatan skill desain smart furniture untuk mereka di sekitar Universitas Negeri Malang menjadi suatu langkah yang krusial. Dengan meningkatkan keterampilan tersebut, diharapkan para tukang kayu dan kuli dapat memberikan solusi desain yang inovatif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan anak kost modern.
Tujuan
Meningkatkan pengetahuan tentang Smart Furniture memberikan pemahaman kepada tukang kayu dan kuli mengenai konsep, manfaat, dan tren desain smart furniture, termasuk fitur fungsional dan ergonomis serta penerapannya; mengembangkan keterampilan desain Smart Furniture (Melatih keterampilan praktis dalam mendesain dan membuat smart furniture dengan standar kualitas dan estetika, termasuk teknik desain, pemilihan bahan, dan penggunaan teknologi terbaru); meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan pasar menyediakan pengetahuan dan keterampilan untuk menyesuaikan desain smart furniture dengan kebutuhan pasar lokal, khususnya kamar kost mahasiswa, untuk meningkatkan kenyamanan dan fungsionalitas; serta mendorong inovasi dan kreativitas dalam desain menginspirasi tukang kayu dan kuli untuk berinovasi dan menciptakan desain smart furniture yang kreatif dan praktis.
Keterlibatan unsur fakultas
Kegiatan pengabdian dilaksanakan oleh dosen DIV TRPBS, yang diketuai oleh Drs. Boedya Djatmika S.T., M.T., dan 2 anggota lainnya yaitu Pranoto S.T., M.T., dan Viola Malta R, S.T., M.Ars. Selain dosen, ada mahasiswa TRPBS yang terlibat yaitu Yudistiar Wijanarko.
Sumber pendanaan
Kegiatan ini diusulkan dana di UM sebesar Rp 18.000.000,-
Hasil yang diperoleh


Pelatihan ini dimulai dengan survei pertama yang dilakukan pada bulan Mei di wilayah tukang kayu. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan dengan konsep smart furniture, yaitu furniture yang tidak hanya fungsional tetapi juga dirancang dengan cerdas untuk memaksimalkan ruang dan kegunaan. Evaluasi dan perancangan desain smart furniture yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, terutama anak kost dan penghuni kontrakan di sekitar kampus, dilakukan pada bulan-bulan berikutnya. Praktik pembuatan smart furniture berlangsung pada bulan Juli hingga Agustus.
Salah satu hasil utama dari pelatihan ini adalah pembuatan meja kursi yang dapat diringkas. Desain ini memungkinkan kursi untuk dimasukkan ke dalam meja, sementara papan meja dapat ditekuk ke dalam, menciptakan produk yang tidak hanya hemat ruang tetapi juga mudah untuk disimpan dan dipindahkan.
Smart furniture menjadi semakin populer dalam desain interior modern karena kemampuannya untuk menggabungkan beberapa fungsi dalam satu produk. Misalnya, sebuah meja yang dapat diubah menjadi rak, atau tempat tidur yang dapat dilipat menjadi sofa, merupakan contoh dari smart furniture yang dirancang untuk memaksimalkan penggunaan ruang dalam lingkungan perkotaan yang cenderung sempit. Dengan pelatihan ini, diharapkan para tukang kayu lokal dapat berkontribusi dalam memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang akan furniture yang tidak hanya fungsional tetapi juga inovatif.
Pelatihan ini berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh semua peserta. Masukan yang diterima selanjutnya adalah evaluasi untuk menentukan apakah produk-produk hasil pelatihan ini dapat dipasarkan secara luas kepada khalayak umum.
Kontribusi sesuai SDG
Dengan adanya pelatihan tentang smart furniture diharapkan dapat membuka peluang baru bagi para tukang kayu untuk mengembangkan bisnis mereka, sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen akan produk furniture yang cerdas dan efisien.