Latar belakang

Dalam era globalisasi, remaja berisiko mengalami stres, terutama mereka yang masih bersekolah atau sudah memasuki bangku perkuliahan. Ketidakmampuan menyeimbangkan akademis, kewajiban sosial, dan kebutuhan bersenang-senang sering menyebabkan kehilangan kontrol emosi, memicu kemarahan atau perasaan negatif. Identitas diri, yaitu kesadaran akan siapa diri seseorang, merupakan bagian penting dari perkembangan psikososial remaja. Menurut teori perkembangan psikososial, fase “Identity vs. Confusion” adalah masa kritis untuk menemukan identitas.

Perkembangan fisik dan psikologis pada masa remaja melibatkan pengendalian pikiran dan emosi. Stoikisme, filosofi Yunani kuno, menekankan pengendalian emosi dan pemahaman batas kontrol dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan. Namun, banyak mahasiswa yang belum sepenuhnya memahami konsep ini. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami stres tinggi selama studi mereka, dengan pemahaman yang terbatas tentang stoikisme. Media seperti buku “Filosofi Teras” telah membahas stoikisme, yang bertujuan membantu mengendalikan emosi negatif dan menghargai apa yang ada saat ini. Potensi perancangan animasi sebagai media untuk memperkenalkan stoikisme dapat membantu remaja memahami dan mengadopsi filosofi ini. Animasi, sebagai media visual yang menarik, dapat menjadi alat efektif dalam pembelajaran. Rigging dalam animasi 2D memungkinkan karakter bergerak dengan realistis, membuat cerita lebih nyata dan meyakinkan. Melalui animasi 2D, diharapkan remaja dapat belajar mengelola emosi dan menemukan ketenangan dalam menghadapi tantangan hidup.

Tujuan

Tujuan animasi ini adalah untuk membantu generasi muda mengendalikan emosi yang sering muncul selama masa remaja. Melalui visual yang menarik, animasi ini dapat memperdalam pengetahuan mereka tentang filosofi Stoikisme. Hasilnya adalah pesan-pesan bijak yang menawarkan solusi ketenangan dalam menghadapi kehidupan saat ini.

Keterlibatan unsur fakultas

Kegiatan penelitian dilaksanakan oleh mahasiswa D4 Animasi angkatan 2020 atas Ichsan Fawwazi Ardika  dan dibimbing oleh dosen pembimbing Bapak Mitra Istiar Wardhana, S.Kom., MT. dan Ibu Bunga Fefiana Mustikasari S.Sn., M.Ds.

Sumber pendanaan

Kegiatan ini dibiayai oleh dana mandiri peneliti dan didukung fasilitas lab dari Fakultas Vokasi untuk perancangan animasi 2D.

Hasil yang diperoleh

Berdasarkan animasi yang telah dirancang oleh penulis, animasi “Pylo dan Sofie: Episode Stoikisme” ini berdurasi 6 menit 52 detik, dengan resolusi 1080p dan frame rate 24fps, serta memperlihatkan bagaimana emosi negatif dapat dicegah menggunakan prinsip Stoikisme. Berdasarkan hasil validasi materi dan media, animasi ini sudah sangat layak untuk didistribusikan dengan nilai 88% pada hasil validasi media, 94% pada hasil validasi materi, dan 81,35% pada hasil uji coba. Validator mengapresiasi keselarasan tema, latar, dan karakter dengan ilmu Stoikisme yang terkandung dalam animasi. Berdasarkan hasil uji coba produk, sebanyak 50 responden memberikan respon positif terhadap animasi ini. Adapun saran yang diberikan dari hasil uji coba mencakup membuat animasi lebih realistis agar lebih cocok untuk para remaja, dan mengembangkan konflik utama agar tidak terkesan terburu-buru. Masukan ini menjadi pengalaman berharga bagi penulis untuk membuat animasi yang lebih baik di masa depan.

Kontribusi sesuai SDG

Perancangan animasi “Pylo dan Sofie Mengenalkan Cara Berpikir Stoikisme” bertujuan untuk mengenalkan peran filsafat kepada remaja melalui media informasi yang sesuai dengan zaman saat ini. Kegiatan ini berkontribusi nyata terhadap SDG 4 (Quality Education) dengan mencakup beberapa aspek penting. 

Pertama, penggunaan animasi 2D sebagai media informasi membuat konsep stoikisme lebih mudah dipahami oleh remaja yang kesulitan memahami materi filsafat melalui metode tradisional. Ini meningkatkan akses terhadap informasi pendidikan berkualitas. 

Kedua, animasi ini mendorong pendidikan yang inklusif dengan menjangkau berbagai kalangan, termasuk mereka yang mungkin tidak terpapar pendidikan formal mengenai filsafat, khususnya stoikisme. 

Ketiga, dengan memahami filsafat stoikisme, remaja akan lebih terlatih dalam berpikir kritis dan analitis, yang merupakan keterampilan penting dalam pendidikan berkualitas.